Bangga dan Kecewa
Assalamualaikum,…
Minggu kemarin saya menyempatkan diri (sok sibuk..) main ke Gramedia Matraman. Seperti biasa, yang pertama saya tuju adalah lokasi majalah National Geographic. Gak sia-sia soalnya sudah ada yang baru (lupa judulnya, tapi klo gak salah tentang Evolusi). Liat sekilas sepertinya gak ada yg menarik, solanya ngebahas Evolusi trus aku coba liat edisi terbaru dari DigestEramuslim (lagi-lagi lupa judul tepatnya).
Di Edisinya kali ini, Eramuslim mengangkat topik mengenai Islam di Nusantara. Mulai dari kapan masuknya sampai Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara yang berkembang pada saat itu. Ada juga tulisan mengenai siapa sebenarnya Snouck Hurgronje.
Pesan utama yang yang dibahas dalam topik-topik diatas adalah penentangan terhadap Teori Gujarat (yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang dari Gujarat India) dengan memberikan banyak bukti-bukti otentik yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia jauh sebelum itu. Bahkan ada bukti yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia sejak Zaman Kekhalifahan Ustmani.
Selain membahas mengenai bukti-bukti tersebut, juga dibahas beberapa kerajaan Islam yang pada masa itu telah menjalin hubungan Diplomatik dengan Kekhalifahan Ustmani. Diantaranya adalah Kerajaan Aceh dan Kerajaan Buton.
Bangga disini karena Sudah banyak pihak yang berusaha meluruskan sejarah Islam di Nusantara dan peranannya dalam Kemerdekaan RI. Kemudian saya juga secara pribadi mau berterimakasih kepada DigestEramuslim yang memasukkan Kerajaan Islam Buton sebagai salah satu Kerajaan Islam yang sudah Eksis sejak zaman Kekhalifahan yang dalam bubu-buku sejarah Dalam Negeri sendiri (terutama tentang sejarah kerajaan Islam di Nusantara) sama sekali tidak pernah disinggung atau dibicarakan.
Kecewa (ini lebih bersifat probadi) karena penyebutan daerahnya tempat Kerajaan Islam Buton Berdiri sangat tidak tepat. Disebutkan bahwa Kerajaan Islam Buton berada di Propinsi Sulawesi Selatan. Bagi saya ini adalah sangat mengecewakan, seharusnya ada di Sulawesi Tenggara. Sepertinya daerah Timur Nusantara memang selalu menjadi anak tiri. Sehingga sampai saat ini masih ada saja beberapa pihak yang merasa tidak penting untuk atau tidak mau tahu dengan kesalahan-kesalahan dalam penyebutan lokasi atau nama daerah. Menurut saya, ini akibat dari pendidikan dan Infomasi yang terlalu Jawa-Centris
Ini adalah tulisan saya yang lain mengenai “peng-anak tirian tersebut”
Loading...